Dilema Jumatan vs Kuliah di Negeri Belanda

Quarter.  Quarter adalah suatu istilah pendidikan di salah satu universitas teknik di Delft.  Berbeda dengan sistem semesteran, sistem quater ini cenderung membuat para mahasiswa lebih belajar menghargai waktu, mendorong kemampuan sampai ke batas bertahan, batas dimana kita bertanya-tanya kepada kemampuan diri kita sendiri.  Sistem quarter ini terdiri dari 8 minggu kuliah ,1 minggu tenang, dan 2 minggu ujian.  Setelah di minggu ke-5 kuliah biasanya kita sudah mulai panik, “Cepat sekali waktu berlalu!” “Baru saja mulai kuliah, ini sudah mau ujian lagi.”  seperti itu kira-kira.

ruangan tempat saya mengetik hari ini

ruangan tempat saya menulis blog ini

Saat ini (2 Mei 2014) adalah minggu kedua dimulainya quarter 4.  Sama sekali tidak terasa bahwa Q1, Q2, dan Q3 sudah dilalui (sebenarnya sih terasa banget, cuman gara-gara sudah lewat jadi aja gak kerasa bilangna hahaha.. manusia).  Perbedaan yang terpenting yang saya rasakan adalah di Quarter 1,2,3 saya tidak menemukan adanya dilema kuat pada hari Jumat.  Tetapi ternyata di quarter 4 ini saya harus menghadapinya.  Ya, betul, jadwal kuliah yang cukup penting yang bentrok dengan jadwal Jumatan setiap minggunya.

Beginilah keadaan muslim yang berada di negara yang bukan mayoritas penduduknya beragama islam.  kebanyakan  kebijakan yang berlaku biasanya cukup memberatkan, ya setidaknya membuat dilema diri ini.  Mungkin setiap oang menilai ini berbeda, dan saya termasuk orang yang cukup kuat berdilema saat dihadapkan pada keadaan seperti ini.

Kuliah yang diambil cukup penting.  Karena waktu 2 jam dalam seminggu ini biasanya sang professor memberikan poin-poin penting yang sangat berguna untuk kita serap sehingga memudahkan kita untuk mengerti (dan untuk lulus tentunya hehe)

Tetapi Jumatan pun (….) penting.  Pagi hari ini saya masih dalam keadaan menjadi seseorang yang tidak mengisi (….) di atas dengan kata apapun. Begitu pula dengan minggu kemarin.  Minggu kemarin pun saya sudah bersiap untuk tidak menghadiri salah satu event (walaupun masih belum tahu event Jumatan ataupun event kuliah), tetapi minggu kemarin jalannya lain, tiba-tiba dosen ada keperluan dan kuliah pun dibatalkan.  Dan siang tadi, saya tidak dapat mengelak kembali.  Di saat kita harus menghadapi apa yang harus kita hadapi, maka itu saatnya kita harus menghadapi apa yang harus kita hadapi (lho koq rekursif gini ya kata-katanya.)

Akhirnya di pagi ini saya seperti mendapatkan arahan dari Yang Maha Kuasa untuk bersikap tegas.  Tiba-tiba saya membuka website tentang pentingnya Solat Jumat, tiba-tiba di jalan saya ketemu seorang muslim yang menyebarkan reklame tentang kehidupan islam Turki, tiba-tiba banyak kejadian yang bikin kangen kehidupan di Indonesia dan negara mayoritas islam lainnya, dan sampailah saya pada satu kalimat yang saya ingat bahwa lelaki yang sengaja meninggalkan Solat Jumat, maka pintu hatinya akan ditutup.  Karena ituu, maka yang dapat saya lakukan adalah setidaknya saya harus berusaha sekuat tenaga tidak meninggalkan solat Jumat itu.  Dan karena saya adalah anak dari orang tua saya, yang telah mengajarkan saya arti kata etika dalam berhubungan dengan orang-orang di sekitar kita, jadi akhirnya saya membulakan tekad untuk menemui Pak dosennya.  Kami sudah secara informal berkenalan dan ngobrol hal-hal sederhana mengenai kehidupan, keluarga, perkuliahan, sampai kesehatan dua hari lalu selepas Oral Exam di ruangannya.  Dan pagi tadi sebelum kuliah dimulai, saya menemuinya kembali dan saya jelaskan bahwa saya muslim, hari Jumat adalah hari suci untuk saya.  Dan sayangnya, Jadwal Praying saya bentrok dengan kuliah anda.  Apakah anda merasa terganggu apabila saya keluar di tengah perkuliahan untuk saya melaksanakan Solat Jumat ?  Dan katanya “Yaaa,  it cant be helped, don’t worry, you can go, it’s a good thing that you told me before”  Alhamdulillah, jadi saya mendapat lampu hijau dari dosen untuk keluar ruangan di tengah-tengah perkuliahan berlansung.

Sebelumnya saya pernah mendengar bahwa ada beberapa kawan yang mendapat kesan yang buruk dari dosennya karena di tengah tengah perkuliahan, dia keluar ruangan hanya untuk ke WC.  Tapi, mungkin itu kesan buruk itu terjadi karena dia belum menyampaikan maksudnya secara baik.

Walaupun sudah mengatakan hal itu kepada dosen, tantangan berikutnya yang terjadi adalah, saat keluar kelas itu sendiri.   Suasana kuliah di Belanda bisa dibilang sangat menegangkan, semua mahasiswa sangat khidmat mendengarkan kuliah dari dosennya.  dan kalau saya berdiri untuk keluar, maka setidaknya ada 40 pasang mata yang tertuju padaku entah dengan pendapat apa pada pikiran mereka.  Dan sayangnya sekali, letak pintu itu ada di depan ruangan kelas, bukan di belakang ruang kelas, jadi yaa, mau nggak mau ya dihadapi, tidak bisa sembunyi sembunyi.

Dan alhamdulillahnya, walaupun berat, semua berhasil dilalui.  Saya juga meminta tolong kawan dari India dan China yang mengerti bahwa hari Jumat adalah sacred day for moslem.  Saya sampaikan pada mereka, bahwa saya akan meninggalkan recorder saya di meja mereka untuk merekam kuliah yang dilakukan dosen, saya pun memberitahu pada kawan-kawan yang duduk di sekitar saya bahwa saya sudah memberitahu Dosen bahwa saya akan keluar ruangan di tengah perkuliahan.  Dan, alhamdulillah mereka mengerti hal itu😀.  Dan hari ini berhasil dilalui dengan meninggalkan materi kuliah selama 20 menit saja (dari total 90 menit) dan Jumatan di Sport Center TU Delft.

Detik-detik saya keluar ruangan itu sangat adrenaline rush bagi saya, sempet berpikir untuk stay in class aja tapi yaa, seseorang pernah mengajari saya bahwa, kalau kita sudah yakin apa yang kita lakukan itu baik untuk agama, maka jangan ragu-ragu untuk melakukannya ! mudah-mudahan kemudahan selalu menyertai di 7 kuliah yang tersisa di hari Jumat di minggu depan.

Jadi, untuk mengisi kalimat : Jumatan pun (….) penting , … harus diisi dengan kata “lebih” . Yang salah adalah di saat kita kurang usaha untuk melakukan Jumatan itu.  Yang salah itu apabila kita terdiam saja nggak ada usaha untuk mencoba meraih win-win solution.  Ada 1001 alasan untuk tidak melaksanakan suatu kewajiban, tetapi ada 1001 cara pula untuk melaksanakan kewajiban itu.  Demikian juga Solat.  Ada 1001 alasan untuk tidak solat, tetapi ada 1001 cara pula untuk solat!

Wallohualambishshawab (menulis sambil mengantuk)

7 thoughts on “Dilema Jumatan vs Kuliah di Negeri Belanda

  1. widih. syukurlah dosennya ngerti ya. kang jejey pake kata2 “it’s a matter of principle” gak kang? (tiba2 inget komik muslim show)

    ngomong2 “rekursif” teh apa?

    • Haloo mia. nggak pake kata2 itu dosennya udah ngerti koq hehe, cuman ya nggak enak aja jadi artis waktu izin ke luar ruangannya. rekursif itu berulang2 mia. Di saat kita A, maka kita harus A (yaiyalahya :p). Mia kumaha kabarna ? jarang nulis blog deui?

      • iya kang udah hampir setahun ga nulis blog. .___.
        udah nulis bbrp draft, tp ga prnah beres nulisnya. random semua. nnti dipilih satu dh buat dipublish. kekekeke.. akhir2 ini lebih enakan nulis diary, slnya konsumsi pribadi (alasann!)

        keliatannya rekursif itu istilah matematis ya.

      • Yup, istilah matematis. Akhirnya ada yg dipublish juga ya Mia? ditunggu postingan berikutnya. Hobi nulis diary juga ternyata euy, isinya banyak curhat ya kalo diary? hehe

      • iya, walopun ga sesering wktu smp-sma.. hheu.
        curhat tak terkontrol lebih baik difilter dulu di diary deh ^^;

  2. Nice post! Selalu ada jalan untuk berbuat baik. Berbuat benar.😉

    Udah lama ga kontak-kontak, tiba-tiba nemu blog kamu. Hahaha. Salam buat Belanda, Jey!😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s