Napak Tilas Pelajar Belanda bersama Wapres Republik Indonesia

Sehari di Belanda bersama Wapres Republik Indonesia – sudut pandang saya sebagai pelajar.

 

Bulan ini adalah bulan ketujuh saya berada di Belanda, negeri yang mempunyai common history dengan Indonesia.  Dan dua  hari lalu, yaitu pada tanggal 24 dan 25 Maret 2014, Belanda menjadi tuan rumah Komisi Tingkat Tinggi mengenai Keamanan Nuklir, yang biasa disebut NSS 2014 atau Nuclear Security Summit 2014.  NSS 2014 ini dihadiri berpuluh-puluh pemimpin negara  berada di kota Den Haag dimana dihadiri oleh lebih dari 50 kepala negara.  Di samping media-media yang telah menyampaikan informasi mengenai perihal NSS 2014 ini sendiri, saya lebih ingin menyampaikan mengenai kesempatan-kesempatan yang saya dapatkan bersama kawan-kawan pelajar lainnya bertemu dengan beliau, sang RI-2

Kedatangan Pak Boediono ke Belanda ini ternyata mempunyai beberapa agenda lain di samping menghadiri NSS 2014.  Beliau mempunyai agenda lain yaitu pertemuan dengan PM Belanda Mark Rutte sebelum NSS berlangsung.  Selain itu beliau pun menyempatkan mengisi kuliah di Leiden University, dan hadir berdiskusi dalam temu masyarakat.  Kebetulan saya berkesempatan hadir dalam dua acara itu walaupun tersedia materi kuliah dan rekaman kuliah dan acara temu masyarakat tersebut dapat disimakdi link ini .

Dalam kuliah di Leiden University, Wapres Boediono “napak tilas”  hubungan Leiden University dengan Indonesia yang ternyata sangat menarik.  Ternyata salah satu professor ternama yang pernah mengenyam pendidikan di Leiden University adalah Jan Hendrik Kern, yang lahir di Poerworedjo, yang melakukan penelitian yang sangat penting dalam keilmuan di Indonesia.  Beliau mempelajari bahasa sansekerta dan menerjemahkan Nagarakertagama, juga memaparkan besarnya Kerajaan Majapahit.  Juga di tahun 1877, Leiden University menetapkan kursinya untuk bidang Javanese, Malay, Islamic & Colonial Law and History & Geography of the Indonesian Archipelago.  Lalu, orang Indonesia pertama yang menerima gelar doktorat dari Leiden Uni ini adalah Prof. Hoesein Djajadiningrat, yang seperti telah kita kenal bersama.

Pak Boediono pun lanjut menyebutkan nama mahasiswa Indonesia lainnya yang bersekolah di Leiden University, beliau adalah Raden Mas Noto Soeroto, yang menjadi salah satu orang pertama yang membuat pergerakan dengan nama “Indonesia” di belakangnya, Beliau mendirikan Perhimpunan Indonesia pada tahun 1908,  di mana Perhimpunan Indonesia ini pernah diketuai oleh Mohammad Hatta.  Dan tidak asing lagi didengar, saat ini organisasi tersebut dapat kita kenal sebagai Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda, yang biasa disingkat sebagai PPI Belanda.  Pak Boediono pun mengatakan  kegembiraannya mengetahui bahwa kawan-kawan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda menghadiri kuliahnya di Leiden University, 26 Maret 2014 itu.

Masuk kepada topik utama kuliah umum tersebut, Pak Boediono memaparkan mengenai “Mempertahankan Transformasi Politik dan Ekonomi Indonesia”  Beliau memaparkan gambaran umum statistik Indonesia selama beberapa tahun terakhir, yang mempunyai rata-rata pertumbuhan GDP yang meningkat.   Maskipun begitu, transformasi politik dan ekonomi harus terus dipertahankan dengan cara menguatkan demokrasi, dan melakukan pembangunan dalam bidang infrastruktur, sumber daya manusia, dan institusi.  Beliau pun mengatakan suatu pepatah Jawa, “Sura dira jaya ningrat lebur ing pangastuti“, yang artinya ” Semua ketekunan, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan oleh kebijaksanaan, kelembutan, dan kesabaran”

Setelah acara di Leiden University, acara dilanjutkan pada sore harinya dengan Temu Masyarakat di hotel Hilton Den Haag.  Di acara yang dihadiri tidak kurang dari 200 orang itu dimoderatori oleh Bu Dubes Retno Marsudi, dibuka dengan gambaran umum Penduduk Indonesia di Belanda.  Bu Dubes memaparkan “aset-aset Indonesia di Belanda”, bahwa jumlah WNI pada data KBRI Den Haag sebanyak 16.520, dan data kependudukan Belanda, etnis Indonesia adalah etnis kedua terbesar setelah Belanda.   Kalau kita hitung, orang Belanda yang terkait dengan Indonesia, jumlahnya, 10% penduduk Belanda, yaitu 1,7 juta orang.   Mahasiswa Indonesia 1495 orang, dan Sekolah Indonesia Netherlands, memiliki 79 siswa.  Juga Diaspora Indonesia di Belanda yang sangat kuat.

Setelah itu.  Pak Wapres memulai diskusi dengan berbagi mengenai apa yang beliau lakukan di Belanda.  Selain agenda beliau mewakili Pak Presiden untuk mewakili KTT Keamanan Nuklir yang bertujuan mengamankan bahan-bahan nuklir yang berbahaya yang bisa jatuh ke tangan yang salah, Pak Wapres melakukan return visit PM Mark Rutte ke Indonesia bulan November 2013 lalu.  Beliau pun menjelaskan bahwa hubungan Indonesia saat ini sedang hubungan terbaik, terjadi comprehensive partnership, dan terlihat elevasi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.  Setelah pemaparan singkat dengan guyonnya, “Kalau saya tidak membatasi berbicara, nanti saya kembali kepada profesi saya yang dahulu, yaitu jadi dosen”,  kedekatan kami rasakan karena sikap Pak Wapres Boediono yang bersedia akrab berdiskusi dengan semua warga negara Indonesia di Belanda, juga dari kesediaan beliau untuk berfoto bersama semua elemen masyarakat.   Banyak pertanyaan dari berbagai elemen masyarakat, dari Ikatan Ilmuwan, dari mahasiswa-mahasiswa, dari Diaspora, membuat malam itu menjadi malam yang sangat menarik.

Bagian yang membuat saya cukup terenyuh adalah bagian pada saat Beliau menceritakan, “Gunakan waktu, mumpung masih ada ruang dan waktu untuk belajar.  Gunakan waktu untuk mendalami bidang-bidang lain pula yang terkait, termasuk filsafat, termasuk sosiologi” , lanjut beliau “Dan nasihat ini sebenarnya adalah nasihat lama yang pernah Saya dengar pada tahun 1960-an.  Nasihat ini Saya dengar saat kuliah di UGM, lalu ada kuliah umum di Universitas tersebut dari seseorang yang bernama Mohammad Hatta”.  Luar biasa sekali mendengar Nasihat Wakil Presiden RI, yang ternyata adalah nasihat Wakil Presiden pertama RI.  “Jangan terlalu sempit pandangan Anda semua ini, para mahasiswa.  Belajar! Apapun yang relevan terhadap praktek ilmu Anda, dan semua yang terkait.  Bagaimanapun pandainya kita, kalau kita tak mengerti kondisi lingkungan itu, maka ilmu pun tidak akan jalan”

Demikianlah pengalaman saya pribadi selama sehari bersama dengan Wakil Presiden Indonesia.  Banyak sekali hal positif dan pesan-pesan yang bisa dipetik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s