Generasi setelah masa kolonialisasi. Apa yang mereka rasakan?

Ada satu hal yang menarik pada saat saya camping di Arnhem untuk masa pengenalan Fakultas Teknik Elektro.  Jadi saat itu bagi mahasiswa internasional di TU Delft, diharuskan mengikuti masa pengenalan yang isinya berupa kuliah-kuliah pembukaan dan penjelasan tata cara akademis dan lain-lain. Dan sampailah saya ke dalam satu sesi nonformal dimana setiap siswa harus menyampaikan culture shock seperti apa yang dia rasakan selama kedatangan mereka seminggu di Belanda ini.

di kelas

Dari sisi saya sendiri, saya menyadari bahwa orang Belanda itu terkenal orang yang straightforward dan “what you see is what you get”.  Artinya, apa yang orang Belanda rasakan itu biasa mereka utarakan, ucapkan secara lugas.  Dan mereka terkenal sangat aktif berbicara, saking ekstrimnya, di satu kuliah beberapa dosen mengatakan bahwa, “Di Belanda kamu hanya menjadi pintar saja tanpa bisa berbicara, maka nilaimu belum tentu sebaik tidak terlalu pintar tapi bisa berbicara”.  Itulah yang menjadi karakter mereka the Dutchman

Karena itu, di kesempatan ini di tempat rantau, saya pun mencoba melatih diri untuk berani menjadi “What you see is what you get”. Dan saya pun harus mencoba mulai untuk berani berbicara, speak it out loud!.  Karena itu, kembali pada kelas informal yang sedang saya hadiri, pada saat giliran saya mengatakan sesuatu akhirnya saya menyatakan dan  menanyakan hal ini,

“The difference here and in my country is I usually hear the adzan every 5 times a day, but here , There isn’t any adzan heard every single day.  You know, I’m a moslem too like our friend, Arif, The different is, we don’t drink, we don’t eat pork, etc.”

Murid-murid yang lain terdiam dan si Dosen menerangkan bahwa gedung elektro TU Delft mempunyai satu tempat Sholat untuk para moslem, dan saya sudah mengetahui itu, saya berterima kasih  dan pembicaraan pun saya lanjutkan

“Actually, i’m a little bit curious about something.”, suasana menegang, “You know based from our History, We have some unique history about colonialism  between NL and Indonesia.  Actually, what do you think about it in this future ?”

Salah satu murid yang memang sangat talkative sebut saja si Rey menjawab dengan kaget “Sorry, What are you asking?” Dan saya merasakan suasana di kelas jadi makin menegang yang saya sendiri tahu kalau pertanyaan macam itu diucapkan, maka di pikiran setiap orang yang mendengar akan terpikir macam-macam.  Jadi statement berikutnya, saya harus mencairkan kembali suasana untuk menjelaskan bahwa niat saya baik dan menjelaskan niat saya sesungguhnya.

“Haha, what i mean is, you know, Me and you are now friends, but, i’m just too curious to know what’s your Dutch guys feelings about me and our country being colonized in the past.  You know, we are friends now. hahaha”, lanjutku.


@class
Teman-teman di kelas banyak yang tertawa dan suasana kembali mencair.  Dan Si Rey tertawa lalu berbicara “You know? it’s  Mixed Feelings.” sebagai kalimat pembukanya.  Lalu dia bicara panjang lebar ini itu dimana saya dapat menangkap bahwa apa yang mereka rasakan adalah sangat campur aduk.  Pertama dia menjelaskan bahwa rasa campur aduk itu terasa antara setuju dan nggak setuju.  Kadang mereka bangga dengan diri mereka sendiri dimana negaranya dapat berusaha koloni sampai ke daerah Indonesia dan ke negara-negara lainnya.  Tetapi mereka juga terkadang tidak setuju dengan slavery yang dilakukan nenek moyangnya yang memang terkadang “slavery”- kata itulah yang si Rey pilih- itu menggunakan cara-cara yang kurang tepat.

Memang menjadi sore yang seru bagi kami semua yang terlibat berbicara bahkan yang hanya mendengarkan saja.  Bahkan sekarang di kelas pun, seminggu setelah acara itu, saya dikenal oleh kawan-kawan internasional lainnya sebagai “He is the one that ask the question about colonialisation” Hahaha, memang kalau kita agak-agak berani, ada sesuatu yang lain yang kita dapat daripada hanya menjadi pendengar.   Bung Hatta , RI-2 kita yang pertama juga pernah sekolah di Belanda, hal ini menunjukkan bahwa orang Indonesia harus bisa vokal juga dong di negeri orang. Hehe, ya begitulah pendapat pribadi personal dari salah satu kawan Belanda kita.  Semoga dapat memberikan pandangan lebih pada teman-teman.  Cheers🙂

Beliau juga pernah kuliah di Belanda lho

Beliau juga pernah kuliah di Belanda lho

2 thoughts on “Generasi setelah masa kolonialisasi. Apa yang mereka rasakan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s