Sunni Syiah @TUDelft

Jadiii, ceritanya saya sedang menjalani hari keempat di Delft saat saya menulis blog ini, dan hari keempat ini adalah masa-masa OSPEK nya TU Delft yang sangat terkenal di kalangan per-universitas-an di seluruh dunia.  Dan kejadian yang saya ingin share pada kesempatan pertama hari ini adalah : Bertemu sekelompok syiah di mushola EWI.

Sore itu menunjukkan jam 2, dimana jam 2 adalah kira-kira setengah jam setelah adzan zuhur berkumandang di Delft (tidak berkumandang sih, hanya sudah saatnya masuk waktu solat Zuhur saja).  Karena akan ada janji jam setengah 3 sore dengan seorang Italia dan kawan-kawan sekelompok lainnya dari China, Swedia, dan India maka saya memutuskan untuk solat di lingkungan kampus (dua hari yll masih bisa pulang ke apartemen untuk solat).  Di TU Delft sendiri ada sebuah ruangan di fakultas Teknik Elektro, ruangan kecil biasa digunakan untuk sholat orang-orang muslim di TUDelft.

Alhasil, saya datang ke sana dan ada 4 orang yang sedang berdiri bersiap solat dengan salah satu orang sebagai imamnya, dan ada satu orang lelaki tua berjenggot yang sedang duduk saja di bagian belakang, mengamati orang-orang yang akan solat itu.  Saya segera mengambil wudhu dan masuk berdiri di samping kanan orang-orang berdiri yang akan solat itu.  Tiba-tiba sang lelaki berjenggot menarik tangan saya dan bertanya pada saya,

“Are you Sunni or Syiah?”

Saya nge-blank mendengar pertanyaan itu dan saya terdiam beberapa saat.  Sama sekali pertanyaan dalam keadaan yang saya tidak pernah hadapi sebelumnya.  Lalu dia ulangi lagi pertanyaannya pada saya, kali ini sambil memberikan penjelasan,

“Are you Sunni or Syiah? I’m not doing salat because i found them rather different in their salat and I realized that they are Syiah”
IMG-20130903-WA0006

IMG-20130903-WA0007
Oooalah, langsung saya jawab, “I am Sunni, thank you for reminding me sir”. Memang, di Indonesia sebagian besar hampir semua mayoritas agama Islamnya Sunni alias ahlussunnah waljamaah.  Jadi si Bapak berjenggot itu ternyata nggak solat dan hanya melanga melongo ngeliat orang lain Sholat karena 4 orang yang sedang akan solat itu adalah penganut Syiah, entah dari negara mana.  Jadi saya menunggu dan ce-es-an sama si Bapak itu dan kami ngobrol-ngobrol ringan sambil memperhatikan cara solat orang Syiah.  Kami bertukar informasi mengenai negara asal kami masing-masing dan apa yang kami lakukan di sini.  Pak jenggot berasal dari negara Qatar, dari tampangnya yang garang berjenggot ternyata dia orang yang sangat easy going diajak bicara.  Alhamdulillah seperti menemukan seorang saudara lama yang setujuan.

Sambil melihat orang-orang Syiah sholat, harus saya akui bahwa memang cara sholat mereka memang berbeda.   Mereka menggunakan bulatan kayu pipih/batu untuk kepala tempat sujud mereka.  Mungkin dari situlah si bapak berjenggot mengetahui bahwa mereka orang Syiah, dan menyelamatkan saya yang tidak menyiapkan kayu pipih sebagai tempat sujud.  Mereka pun melakukan beberapa gerakan yang berbeda, seperti mereka tidak mengucapkan takbir setelah itidal menuju sujud, lalu setelah sujud pertama mereka mengucapkan takbir langsung dua kali dan langsung sujud kembali setelah duduk antara dua sujud, seperti tidak membaca doa panjang saat duduk antara dua sujud.

DSC00529_1280x720

Terus terang, agak ngeri juga melihat solatnya orang Syiah, benar-benar sesuatu yang nggak pernah saya lihat sebelumnya, bahkan saat umroh kemarin pun belum pernah saya menyimak solatnya orang Syiah.  Akhirnya mereka selesai solat, melakukan sedikit doa dan meletakkan kembali kayu pipih tempat sujud mereka di rak buku.  Dan giliran saya solat.  Si Bapak Janggut melakukan Qomat.  Beliau bertanya pada saya, “Are you safar and will combine Zuhur and Ashar ? or are you residence here?”.  Saya menjawab “Oh, i am doing normal 4 rakaat as a residence”, “Oh, if you are residence, than you should be the imam, because i am the safar”  Begitulah bagaimana si Bung Jenggot (tadi Pak sekarang koq jadi Bung, dan kadang-kadang Jenggot kadang-kadang Janggut) membiarkan saya menjadi imam.  Such a decision by him.

Kami solat seperti biasanya, saya imam dan dia mengikuti tanpa ada gerakan aneh-aneh, ya itu artinya memang dia adalah penganut sunni.  Kami selesai solat dan bersalaman dan kembali ke luar gedung dan mengobrol bersama sembari berjalan.  “Masya Allah, Allahuakbar, Alhamdulillah” beberapa kali terucap dari mulutnya saay kami mengobrol mengenai pengalaman umroh masing-masing, dan saat itu saya sendiri benar-benar menemukan saudara yang setujuan.  Pertemuan singkat yang sekitar 10 menit yang membuatku merasa bahwa Alloh memberikan saudara yang setujuan di setiap belahan bumi.  Setujuan dunia dan akhirat.  Alhamdulillah

Wallahualambishshawab

2 thoughts on “Sunni Syiah @TUDelft

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s