betah nggak ?

Zz, ngelindur dl ah. *masih ngantuk

Banyak orang-orang yang menanyakan pertanyaan itu.

“betah nggak?”

Ya, pertanyaan itu adalah pertanyaan yang paling dan paling populer setelah lulus dari bangku kuliah (apalagi setelah ditransfer ke luar pulau jawa). Pertanyaan yang ditanyakan semua kalangan dari pihak keluarga, sepupu, om tante, teman, adik kelas, orang lokal setempat, rekan kerja setempat, sampai sesama rantau penjual nasi padang di tempat rantau.

Jujur, awal-awal merantau memang yang terasa ketika dilontarkan pertanyaan itu adalah

mana mungkin betah, nggak mau betah ah, nggak akan lama-lama disini dan segera mencari segala daya usaha ke pulau jawa

Batin ini perang sendiri, terkadang menolak apa yang orang lain minta bantu. Menolak membantu berarti menolak untuk bermanfaat bagi orang lain. Dan itu adalah menolak jadi sebaik-baiknya manusia. Malahan ngurus2 mimpi nggak jelas dan menutup mata dari apa yang ada dan dapat dihadapi di depan mata.

Alhamdulillah fasa seperti itu tidak terlalu lama menjadi bagian dari hidup saya. “Makin cepat salah, makin cepat benar – MT”. Alhamdulillah juga semua daya upaya usaha yang tidak menginjak2 usaha orang lain dapat ditempuh. *jgn lupa untuk selalu meminta petunjukNya pula.

*akhirnya ketiduran

Lanjut. Masa-masa saya berpikir seperti itu tentang betah pernah terjadi. dan, ternyata, saya punya pandangan yang mungkin lebih baik tentang suatu kebetahan. Sekarang apabila ditanya “betah nggak?”, semoga saya selalu punya pikiran seperti ini

saya harus betah, karena kalau betah berarti tandanya saya sudah memperluas zona aman saya dan saya siap memperluasnya kembali mencari tantangan baru

Walaupun memang keinginan dekat dgn keluarga di jawa pasti ada, tapi saya berpikir, jalankan apa yang Alloh perintahkan di depan mata terlebih dahulu. Kalau memang ada jalan saya bisa pindah dari sini, saya sudah berhasil menghadapi kartu yang diberikan oleh Alloh sekuat tenaga. (Semoga cepat dapat berkumpul kembali dgn keluarga, aminn)

Sekarang saya mengerti keluarga dan teman-teman yang mendoakan “semoga betah”. Dengan betah, saya sudah siap untuk pindah ke tempat baru yang lebih baik. Bukannya mereka mendoakan agar lama-lama di sini. Tetapi mereka mendoakan agar saya selalu siap dihitung cepat menjadi orang yang dapat amanah di mana saja.

Wallohualam

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s