hukum keinginan

Met subuh.

Tiba2 pagi2 sekali teringat suatu hal yang sangat penting untuk diingat. Hal ini terjadi kira2 saat saya di tingkat satu kuliahan, pada tahun 2005 berarti. Sudah 5 tahun sejak peristiwa itu.

Yang saya ingat sekali itu adalah, malam hari itu di malam wisuda elektro, saya ikut mengantarkan calon sepupu ipar yang diwisuda. Di suatu meja bundar di salah satu resto di Bandung, saya duduk bersama keluarga om dan tante dari Surabaya.

Melihat keadaan sekeliling, yang diwarnai haru para keluarga wisudawan dan wisudawati, yang tidak sedikit juga yang telah membawa pasangan masing-masing, saya dengan polosnya bertanya kepada om saya, “om, kapan sih sebenernya kita memutuskan untuk menjemput jodoh?”

Karena terus terang, saat itu kepala ini benar-benar diwarnai ketidaktahuan. Banyak yang pacaran, ujung2nya nggak jadi nikah. Tetapi banyak pula yang langsung taaruf, khitbah, dan menikahlah mereka.

Om saya senyum2 dan ketawa2 kecil, yang sampai sekarang saya juga nggak tahu maksud dari senyum dan ketawa itu sebenarnya apa.. Lalu om saya yang adalah seorang pengusaha itu menatap mata saya lurus ke dalam, sambil tersenyum. sebuah tatapan yang bagaikan berupaya untuk menyentuh hati saya, sambil berkata


“mas Aji sudah sangat menyukai seseorang, tetapi mas Aji harus siap kalau sewaktu-waktu dalam waktu yang tak terduga orang itu hilang begitu saja”

Lalu beliau lanjutkan penjelasannya, sambil menunjuk sebuah gelas kaki berisi setengah es sirup ungu, “misalnya ini orang yang kamu suka”. Dan gelas itu diambilnya dan disumputkannya di bawah meja sehingga saya tak dapat melihat gelas itu. Beliau sambil menjelaskan,


“Tiba-tiba Alloh mengambil gelas ini, beserta isi-isinya, sehingga ndak ada sedikitpun yang tersisa, dan itu adalah kehendak Alloh.”

“Mas Aji harus siap, Mas.”

Kejadian malam itu masih merupakan suatu sentakan dalam hati ini di saat mengingatnya. Kita udah sangat menginginkan sesuatu. Kita berusaha meraih sesuatu -apapun, bukan hanya jodoh- tetapi keinginan yang kuat itu harus disertakan oleh kekuatan menyerahkannya kembali pada Alloh. Sebuah hukum keinginan. Makin kita menginginkan sesuatu, makin harus siap melepaskan sesuatu.

“Kalau begitu, ya nggak usah terlalu ingin sesuatu dong? Wong ujungnya rasa ingin yang kuat itu harus dimatikan juga oleh diri sendiri… ” Saya sama sekali nggak setuju sama pernyataan barusan. Menurut saya, kalau nggak pernah menginginkan sesuatu begitu kuat, ya silakan menjadi orang yang biasa-biasa saja apa adanya monggo-monggo wae, nerimo-nerimo wae. BAH, hidup ini cuma sebentar mbok ya isi dengan mimpi-mimpi yang kuat dan jadilah sebuah inspirasi!

Memang,, berarti jalan keluarnya adalah meningkatkan kemampuan diri untuk ikhlas menyerahkan apa-apa yang telah kita usahakan, kembali kepada Alloh…

Wallohualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s