ramadhan di rantau sinka

karena tersadar atas pertanyaan orang-orang seperti, “Jey, ente pertama kali ya puasa jauh dari orang tua?”, atau “pertama kali puasa di rantau Jey?” maka akhirnya kepikiran juga ya, sebenernya saya ini memang jauh dari orang tua😦.  Yaa, semoga mama papa di Bandung sana sehat-sehat selalu.  alhamdulillah masih ada banyak saudara-saudara seperti mbak Santi di Jakarta, mas Adi di Surabaya, dan Mbak Nisa yang ga jarang ke Bandung untuk ngajar. Lalu masih ada Pakde Bondan, Bude Erna,  Om Hangi, Om Judi di Bandung sana (hmmm, maybe i have to worry for my lone self here :p).

Jangan lupa bangun saur Ma Pa !😛 (padahal siapa juga yang biasanya dibangunin, hahaha)

Karena itulah posting hari ini tentang ramadhan di rantau Sinka. Ramadhan di rantau Sinka ini kalau didengar-dengar  memang namanya mistis seperti nama desa pedalaman cumbawamba apaa gitu.  tapi, sebenernya nama Sinka itu berasal dari Singkawang, kota terbesar kedua di Kalimantan Barat.

Singkawang ini kota kecil (kalo di bandingkan dengan kota-kota di Jawa, apalagi kota-kota di Jepang) , yaa besarnya seperti kota Pekalongan lah (jadi pengen mudik :P).  Ada 3 ras yang berkumpul di kota ini, yaitu Melayu, Dayak, Chinese.  Uniknya, walikota Singkawang adalah orang Chinese, tapi yang pengen dibahas sekarang bukan masalah ras-rasan tapi, tentang suasana ramadhan di Sinka.

Mari berangkat dari kost-kostan.  Setiap harinya kosku yang mantan rumah bos, yang deket kantor ini, tinggal jalan 7 menit, waktu yang hampir mirip seperti jalan dari taman hewan ke kampus gajah duduk lah.

Lalu, ternyata kaget juga di hari pertama bulan puasa ini, diawali karena saat pulang ke kosan, tak ada kunci rumah di kantong celana ataupun baju ataupun di tas, karena kunci rumahnya sedang dibawa Filbert, temen sekosan yang sedang mencari Bapak penduplikat kunci rumah.. (dan ternyata muter-muter Sinka, nggak ada yang namanya tukang duplikat kunci… WHATT, apa harus ke Jakarta, duplikat kunci saja -_- )

Lanjut, dengan motor pinjaman, saya muter2 nyari makanan, yang ternyata sangat sulit didapatkan di bulan puasa ini.   Dan kubawa sepeda motor pinjaman dari Mas Gunawan -sesama perantau dari Jawa-  jalan keliling Singkawang lagi dan ternyata warung-warung sangat jarang buka!! kalopun buka, warung itu tertulis “nasi campur daging merah” yang konon pemiliknya orang chinese dan, daging merah itu adalah suatu daging yang tidak diboleh dimakan orang muslim -apalagi untuk buka puasa- -dan apalagi untuk nraktir sesama muslim di acara buka puasa bareng- , jadii  kukayuh terus sepeda motor Mas Gun ke pusat kota di mesjid raya.

WAAAH! ternyata suasana di mesjid rayanya di tengah perkotaan sangat ramai padahal liatnya baru jam 4.Daaan , ternyata ajaibnya, banyak warung-warung kaget berspornor. wah senangnya kalo orang-orang DKM mesjid raya punya inisiatif meramaikan kegaiatan mesjid dan bulan puasa dengan hal seperti ini.😀 yes, jadi ada makanan buka puasa yang aman dan bisa dibawa untuk buka puasa bareng deh. deh😛

karena itulah, saya membeli makanan di sini, dan ternyata ada pisang goreng crispy kegemaran saya nih, asik juga beli untuk anak-anak sekosan ada 8 orang. heheh,

yaaaaa, selamat menikmati bulan puasa ini, dimanapun anda berada, mau jauh dari ortu mau di rantau, kalo berprasangka baik, dan terus beramal semua akan terasa sekarang ringan, asal jangan njanjanin buka puasa nasi campur daging meraha aja. hehe, sekarang jam 18.06, selamat berbuka puasa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s