Sedikit teori praktis mengenai sambaran petir

Jadi sebagai seorang anak dari bapak yang mempelajari petir pada masa mudanya, di rumah seringkali saya mendapatkan ceramah dari sang bapak mengenai petir dan bagaimana cara menangkalnya. Memang si bapak ini dulu terkenal sebagai Ki Ageng Selo karena, kantornya dulu di TE***M menugaskan si bapak untuk menuntaskan masalah petir yang menyambar stasion satelit di Cibinong.

Kali ini, saya yang penasaran, supaya nggak malu kalo ada yang nanya, setidaknya saya bisa mengerti teorinya. hehehe. Ternyata begini prinsipnya:

  1. PETIR itu memang biasa menyambar tempat-tempat yang cenderung berposisi tinggi. PETIR juga biasa menyambar tempat-tempat yang mempunyai elektron tinggi. Nah dalam sistem jaringan listrik, PETIR biasa menyambar ground. Mengapa ? Karena dalam jaringan listrik masa kini, biasanya PETIR sudah diantisipasi dengan membuat penangkal petir yang tersambung ke ground wire. Jadi untuk kasus sambaran langsung, petir biasanya langsung teralikan ke ground wire di level tegangan manapun
  2. Di Indonesia, di tegangan rendah, yakni 220 Volt yang tersambung ke rumah-rumah, ground disambungkan dengan netral. Berbeda dengan di negara maju, biasanya ground sudah jelas-jelas dipisah. Di negara maju, biasanya tetap ada 3 kabel yang masuk ke rumah. Yaitu Arde, Netral, dan Ground. Kalau di Indonesia hanya ada 2 kabel aja yang masuk ke rumah, yaitu Arde dan NetralGround.

    Hal ini mengakibatkan apabila ada sambaran petir di Indonesia, umumnya petir akan menhantam ground wire dan teralirkan ke tanah dengan waktu sepersekian milidetik, namun perlu diingat bahwa sepersekian milidetik itu tetap akan terasa pulsanya di ground wire, dan kalau menyambar sistem 220 Volt, maka pulsa itu akan menyambar kabel netral juga karena kabel ground dengan kabel netral di rumahan Indonesia umumnya tersambung.

    Pulsa PETIR yang masuk ke NetralGround dapat berorder kilovolt, dimana dapat dengan instan membunuh devais devais terutama yang berkomponen elektronik. Dan apabila Pulsa PETIR itu masuk ke Netral Ground, sementara kabel Arde tetap di 220 Volt, maka perbedaan tegangan berorder Kilovolt tetap ada dan BOOM selamat tinggal alat alat elektronik yang terkena.

    Karena itu, antara kabel arde dengan netralgrond ada baiknya dipasang arrester sesuai yang dapat memotong overvoltage di atas 300 Volt kira2. Dengan dipasangnya arrester ini, maka saat arus overvoltage menyambar GroundNetral, dengan orde Kilovolt katakanlah, karena kita teruskan ke arde, maka arde akan mempunyai tegangan kilovolt + 220 Volt. Kira2 begitu, dan dengan begitu maka devais menjadi aman.

  3. Selain sambaran langsung, pulsa petir juga dapat timbul akibat arus induksi. katakanlah PETIR menyambar suatu besi di kejauhan sekitar 10 meter, kalau ada besi lainnya dengan teori medan, maka kita mendapatkan pulsa PETIR itu, walaupun tidak separah tempat sambaran utama di sekitaran tempat tersebut. Jadi, antisipasilah juga arus listrik yang mengalir dari induksi. yang mungkin mengenai bodi yang terhubung juga dengan ground. (dan kembali ke teori ground)

Setelah 6 tahun kangen kacapi karena lulus dari jurusan kacapi suling LSS ITB Bandung, tiba2 di sini ketemu DR Wim van Zanten, ethnomusicologist dari Leiden University yg dulu disertasinya tentang Cianjuran.

Mengejutkannya, beliau lihai main kacapi indung yang terkenal sangat rumit dimainkan. Di sini beliau membuat grup Dangiang Parahiangan bersama temen2 orang Belanda dan orang Sunda di Belanda. Terima kasih Kang Wim dan kawan2 telah turut mencintai dan melestarikan budaya Indonesia.

View on Path

Dilema Jumatan vs Kuliah di Negeri Belanda

Quarter.  Quarter adalah suatu istilah pendidikan di salah satu universitas teknik di Delft.  Berbeda dengan sistem semesteran, sistem quater ini cenderung membuat para mahasiswa lebih belajar menghargai waktu, mendorong kemampuan sampai ke batas bertahan, batas dimana kita bertanya-tanya kepada kemampuan diri kita sendiri.  Sistem quarter ini terdiri dari 8 minggu kuliah ,1 minggu tenang, dan 2 minggu ujian.  Setelah di minggu ke-5 kuliah biasanya kita sudah mulai panik, “Cepat sekali waktu berlalu!” “Baru saja mulai kuliah, ini sudah mau ujian lagi.”  seperti itu kira-kira.

ruangan tempat saya mengetik hari ini

ruangan tempat saya menulis blog ini

Saat ini (2 Mei 2014) adalah minggu kedua dimulainya quarter 4.  Sama sekali tidak terasa bahwa Q1, Q2, dan Q3 sudah dilalui (sebenarnya sih terasa banget, cuman gara-gara sudah lewat jadi aja gak kerasa bilangna hahaha.. manusia).  Perbedaan yang terpenting yang saya rasakan adalah di Quarter 1,2,3 saya tidak menemukan adanya dilema kuat pada hari Jumat.  Tetapi ternyata di quarter 4 ini saya harus menghadapinya.  Ya, betul, jadwal kuliah yang cukup penting yang bentrok dengan jadwal Jumatan setiap minggunya.

Beginilah keadaan muslim yang berada di negara yang bukan mayoritas penduduknya beragama islam.  kebanyakan  kebijakan yang berlaku biasanya cukup memberatkan, ya setidaknya membuat dilema diri ini.  Mungkin setiap oang menilai ini berbeda, dan saya termasuk orang yang cukup kuat berdilema saat dihadapkan pada keadaan seperti ini.

Kuliah yang diambil cukup penting.  Karena waktu 2 jam dalam seminggu ini biasanya sang professor memberikan poin-poin penting yang sangat berguna untuk kita serap sehingga memudahkan kita untuk mengerti (dan untuk lulus tentunya hehe)

Tetapi Jumatan pun (….) penting.  Pagi hari ini saya masih dalam keadaan menjadi seseorang yang tidak mengisi (….) di atas dengan kata apapun. Begitu pula dengan minggu kemarin.  Minggu kemarin pun saya sudah bersiap untuk tidak menghadiri salah satu event (walaupun masih belum tahu event Jumatan ataupun event kuliah), tetapi minggu kemarin jalannya lain, tiba-tiba dosen ada keperluan dan kuliah pun dibatalkan.  Dan siang tadi, saya tidak dapat mengelak kembali.  Di saat kita harus menghadapi apa yang harus kita hadapi, maka itu saatnya kita harus menghadapi apa yang harus kita hadapi (lho koq rekursif gini ya kata-katanya.)

Akhirnya di pagi ini saya seperti mendapatkan arahan dari Yang Maha Kuasa untuk bersikap tegas.  Tiba-tiba saya membuka website tentang pentingnya Solat Jumat, tiba-tiba di jalan saya ketemu seorang muslim yang menyebarkan reklame tentang kehidupan islam Turki, tiba-tiba banyak kejadian yang bikin kangen kehidupan di Indonesia dan negara mayoritas islam lainnya, dan sampailah saya pada satu kalimat yang saya ingat bahwa lelaki yang sengaja meninggalkan Solat Jumat, maka pintu hatinya akan ditutup.  Karena ituu, maka yang dapat saya lakukan adalah setidaknya saya harus berusaha sekuat tenaga tidak meninggalkan solat Jumat itu.  Dan karena saya adalah anak dari orang tua saya, yang telah mengajarkan saya arti kata etika dalam berhubungan dengan orang-orang di sekitar kita, jadi akhirnya saya membulakan tekad untuk menemui Pak dosennya.  Kami sudah secara informal berkenalan dan ngobrol hal-hal sederhana mengenai kehidupan, keluarga, perkuliahan, sampai kesehatan dua hari lalu selepas Oral Exam di ruangannya.  Dan pagi tadi sebelum kuliah dimulai, saya menemuinya kembali dan saya jelaskan bahwa saya muslim, hari Jumat adalah hari suci untuk saya.  Dan sayangnya, Jadwal Praying saya bentrok dengan kuliah anda.  Apakah anda merasa terganggu apabila saya keluar di tengah perkuliahan untuk saya melaksanakan Solat Jumat ?  Dan katanya “Yaaa,  it cant be helped, don’t worry, you can go, it’s a good thing that you told me before”  Alhamdulillah, jadi saya mendapat lampu hijau dari dosen untuk keluar ruangan di tengah-tengah perkuliahan berlansung.

Sebelumnya saya pernah mendengar bahwa ada beberapa kawan yang mendapat kesan yang buruk dari dosennya karena di tengah tengah perkuliahan, dia keluar ruangan hanya untuk ke WC.  Tapi, mungkin itu kesan buruk itu terjadi karena dia belum menyampaikan maksudnya secara baik.

Walaupun sudah mengatakan hal itu kepada dosen, tantangan berikutnya yang terjadi adalah, saat keluar kelas itu sendiri.   Suasana kuliah di Belanda bisa dibilang sangat menegangkan, semua mahasiswa sangat khidmat mendengarkan kuliah dari dosennya.  dan kalau saya berdiri untuk keluar, maka setidaknya ada 40 pasang mata yang tertuju padaku entah dengan pendapat apa pada pikiran mereka.  Dan sayangnya sekali, letak pintu itu ada di depan ruangan kelas, bukan di belakang ruang kelas, jadi yaa, mau nggak mau ya dihadapi, tidak bisa sembunyi sembunyi.

Dan alhamdulillahnya, walaupun berat, semua berhasil dilalui.  Saya juga meminta tolong kawan dari India dan China yang mengerti bahwa hari Jumat adalah sacred day for moslem.  Saya sampaikan pada mereka, bahwa saya akan meninggalkan recorder saya di meja mereka untuk merekam kuliah yang dilakukan dosen, saya pun memberitahu pada kawan-kawan yang duduk di sekitar saya bahwa saya sudah memberitahu Dosen bahwa saya akan keluar ruangan di tengah perkuliahan.  Dan, alhamdulillah mereka mengerti hal itu😀.  Dan hari ini berhasil dilalui dengan meninggalkan materi kuliah selama 20 menit saja (dari total 90 menit) dan Jumatan di Sport Center TU Delft.

Detik-detik saya keluar ruangan itu sangat adrenaline rush bagi saya, sempet berpikir untuk stay in class aja tapi yaa, seseorang pernah mengajari saya bahwa, kalau kita sudah yakin apa yang kita lakukan itu baik untuk agama, maka jangan ragu-ragu untuk melakukannya ! mudah-mudahan kemudahan selalu menyertai di 7 kuliah yang tersisa di hari Jumat di minggu depan.

Jadi, untuk mengisi kalimat : Jumatan pun (….) penting , … harus diisi dengan kata “lebih” . Yang salah adalah di saat kita kurang usaha untuk melakukan Jumatan itu.  Yang salah itu apabila kita terdiam saja nggak ada usaha untuk mencoba meraih win-win solution.  Ada 1001 alasan untuk tidak melaksanakan suatu kewajiban, tetapi ada 1001 cara pula untuk melaksanakan kewajiban itu.  Demikian juga Solat.  Ada 1001 alasan untuk tidak solat, tetapi ada 1001 cara pula untuk solat!

Wallohualambishshawab (menulis sambil mengantuk)

Napak Tilas Pelajar Belanda bersama Wapres Republik Indonesia

Sehari di Belanda bersama Wapres Republik Indonesia – sudut pandang saya sebagai pelajar.

 

Bulan ini adalah bulan ketujuh saya berada di Belanda, negeri yang mempunyai common history dengan Indonesia.  Dan dua  hari lalu, yaitu pada tanggal 24 dan 25 Maret 2014, Belanda menjadi tuan rumah Komisi Tingkat Tinggi mengenai Keamanan Nuklir, yang biasa disebut NSS 2014 atau Nuclear Security Summit 2014.  NSS 2014 ini dihadiri berpuluh-puluh pemimpin negara  berada di kota Den Haag dimana dihadiri oleh lebih dari 50 kepala negara.  Di samping media-media yang telah menyampaikan informasi mengenai perihal NSS 2014 ini sendiri, saya lebih ingin menyampaikan mengenai kesempatan-kesempatan yang saya dapatkan bersama kawan-kawan pelajar lainnya bertemu dengan beliau, sang RI-2

Kedatangan Pak Boediono ke Belanda ini ternyata mempunyai beberapa agenda lain di samping menghadiri NSS 2014.  Beliau mempunyai agenda lain yaitu pertemuan dengan PM Belanda Mark Rutte sebelum NSS berlangsung.  Selain itu beliau pun menyempatkan mengisi kuliah di Leiden University, dan hadir berdiskusi dalam temu masyarakat.  Kebetulan saya berkesempatan hadir dalam dua acara itu walaupun tersedia materi kuliah dan rekaman kuliah dan acara temu masyarakat tersebut dapat disimakdi link ini .

Dalam kuliah di Leiden University, Wapres Boediono “napak tilas”  hubungan Leiden University dengan Indonesia yang ternyata sangat menarik.  Ternyata salah satu professor ternama yang pernah mengenyam pendidikan di Leiden University adalah Jan Hendrik Kern, yang lahir di Poerworedjo, yang melakukan penelitian yang sangat penting dalam keilmuan di Indonesia.  Beliau mempelajari bahasa sansekerta dan menerjemahkan Nagarakertagama, juga memaparkan besarnya Kerajaan Majapahit.  Juga di tahun 1877, Leiden University menetapkan kursinya untuk bidang Javanese, Malay, Islamic & Colonial Law and History & Geography of the Indonesian Archipelago.  Lalu, orang Indonesia pertama yang menerima gelar doktorat dari Leiden Uni ini adalah Prof. Hoesein Djajadiningrat, yang seperti telah kita kenal bersama.

Pak Boediono pun lanjut menyebutkan nama mahasiswa Indonesia lainnya yang bersekolah di Leiden University, beliau adalah Raden Mas Noto Soeroto, yang menjadi salah satu orang pertama yang membuat pergerakan dengan nama “Indonesia” di belakangnya, Beliau mendirikan Perhimpunan Indonesia pada tahun 1908,  di mana Perhimpunan Indonesia ini pernah diketuai oleh Mohammad Hatta.  Dan tidak asing lagi didengar, saat ini organisasi tersebut dapat kita kenal sebagai Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda, yang biasa disingkat sebagai PPI Belanda.  Pak Boediono pun mengatakan  kegembiraannya mengetahui bahwa kawan-kawan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda menghadiri kuliahnya di Leiden University, 26 Maret 2014 itu.

Masuk kepada topik utama kuliah umum tersebut, Pak Boediono memaparkan mengenai “Mempertahankan Transformasi Politik dan Ekonomi Indonesia”  Beliau memaparkan gambaran umum statistik Indonesia selama beberapa tahun terakhir, yang mempunyai rata-rata pertumbuhan GDP yang meningkat.   Maskipun begitu, transformasi politik dan ekonomi harus terus dipertahankan dengan cara menguatkan demokrasi, dan melakukan pembangunan dalam bidang infrastruktur, sumber daya manusia, dan institusi.  Beliau pun mengatakan suatu pepatah Jawa, “Sura dira jaya ningrat lebur ing pangastuti“, yang artinya ” Semua ketekunan, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan oleh kebijaksanaan, kelembutan, dan kesabaran”

Setelah acara di Leiden University, acara dilanjutkan pada sore harinya dengan Temu Masyarakat di hotel Hilton Den Haag.  Di acara yang dihadiri tidak kurang dari 200 orang itu dimoderatori oleh Bu Dubes Retno Marsudi, dibuka dengan gambaran umum Penduduk Indonesia di Belanda.  Bu Dubes memaparkan “aset-aset Indonesia di Belanda”, bahwa jumlah WNI pada data KBRI Den Haag sebanyak 16.520, dan data kependudukan Belanda, etnis Indonesia adalah etnis kedua terbesar setelah Belanda.   Kalau kita hitung, orang Belanda yang terkait dengan Indonesia, jumlahnya, 10% penduduk Belanda, yaitu 1,7 juta orang.   Mahasiswa Indonesia 1495 orang, dan Sekolah Indonesia Netherlands, memiliki 79 siswa.  Juga Diaspora Indonesia di Belanda yang sangat kuat.

Setelah itu.  Pak Wapres memulai diskusi dengan berbagi mengenai apa yang beliau lakukan di Belanda.  Selain agenda beliau mewakili Pak Presiden untuk mewakili KTT Keamanan Nuklir yang bertujuan mengamankan bahan-bahan nuklir yang berbahaya yang bisa jatuh ke tangan yang salah, Pak Wapres melakukan return visit PM Mark Rutte ke Indonesia bulan November 2013 lalu.  Beliau pun menjelaskan bahwa hubungan Indonesia saat ini sedang hubungan terbaik, terjadi comprehensive partnership, dan terlihat elevasi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.  Setelah pemaparan singkat dengan guyonnya, “Kalau saya tidak membatasi berbicara, nanti saya kembali kepada profesi saya yang dahulu, yaitu jadi dosen”,  kedekatan kami rasakan karena sikap Pak Wapres Boediono yang bersedia akrab berdiskusi dengan semua warga negara Indonesia di Belanda, juga dari kesediaan beliau untuk berfoto bersama semua elemen masyarakat.   Banyak pertanyaan dari berbagai elemen masyarakat, dari Ikatan Ilmuwan, dari mahasiswa-mahasiswa, dari Diaspora, membuat malam itu menjadi malam yang sangat menarik.

Bagian yang membuat saya cukup terenyuh adalah bagian pada saat Beliau menceritakan, “Gunakan waktu, mumpung masih ada ruang dan waktu untuk belajar.  Gunakan waktu untuk mendalami bidang-bidang lain pula yang terkait, termasuk filsafat, termasuk sosiologi” , lanjut beliau “Dan nasihat ini sebenarnya adalah nasihat lama yang pernah Saya dengar pada tahun 1960-an.  Nasihat ini Saya dengar saat kuliah di UGM, lalu ada kuliah umum di Universitas tersebut dari seseorang yang bernama Mohammad Hatta”.  Luar biasa sekali mendengar Nasihat Wakil Presiden RI, yang ternyata adalah nasihat Wakil Presiden pertama RI.  “Jangan terlalu sempit pandangan Anda semua ini, para mahasiswa.  Belajar! Apapun yang relevan terhadap praktek ilmu Anda, dan semua yang terkait.  Bagaimanapun pandainya kita, kalau kita tak mengerti kondisi lingkungan itu, maka ilmu pun tidak akan jalan”

Demikianlah pengalaman saya pribadi selama sehari bersama dengan Wakil Presiden Indonesia.  Banyak sekali hal positif dan pesan-pesan yang bisa dipetik.

Baru nonton mata najwa bu Risma #telat bgt. Kepikiran, Amanah itu titipan yg berat dipertanggungjawabkan kelak, tp kenapa sebagian orang rela mengorbankan segalanya untuk mendapatkannya untuk dirinya sendiri?

Lebih enak didengar mana ya kalo mendengar orang berkata “This is for me!” atau “I will do it for you”

Tapi di sisi lain, banyak juga orang, kawan, teman yang memilih diam nyaman “I will not get the trouble for doing it” saat dimintai bantuan apapun

Lebih enak didengar mana ya kalo mendengar orang berkata “This is for me!” atau “I will do it for you”

Memang menjanjikan sesuatu itu sesuai kapasitas, tapi kenapa kita enggan memperbesar kapasitas diri sendiri??

Yaa mengemban tanggung jawab itu memang pilihan yg sangat berat, namun kalau belum mampu, apakah itu membuat qt berhenti menjadi orang yang berarti untuk orang lain dan kembali bernyaman ria? Kapan berubahnya?

Someone told me “Sesuatu akan benar-benar menjadi milik kita kalau kita sudah memberikannya untuk orang lain” seperti dicontohin rasulullah setiap harinya yang selaluuu memikirkan umatnya dlm harta, pikiran, maupun tenaga. Hidup ini terlalu mubazir apabila qt terlalu banyak memikirkan diri sendiri! Ubah mental!

Lebih enak didengar mana ya kalo mendengar orang berkata “This is for me!” atau “I will do it for you”…… wallahualam

#ngelindurdipagihari, tidur lagi ahh zzZzzgrok zzzzgrok.

View on Path

Manusia baik hati akan selalu memberikan inspirasi walaupun sudah tiada

Delft, 2 Februari 2014

Bismillah,

Delft, Minggu subuh ini berlangsung seperti biasanya.  Sendiri terbangun dalam kamar studio dan melakukan beberapa aktivitas rutin layaknya sebagian besar pelajar rantau lainnya.  Setelah matahari sudah akan muncul di kota Delft, saya sudah tidak bisa lagi menahan beratnya mata, mungkin karena ngantuk tak tertahankan setelah aktivitas plesir ke kampus kota tetangga di hari sebelumnya.  Sambil main-main hp, akhirnya mata semakin berat dan ketiduran dengan sempurna pun terjadi.  Saya dibawa ke alam mimpi dengan cerita yang cukup aneh menurut saya.  Saya sedang mengejar penjahat di suatu desa tempat tinggal Bapak saya di Jawa Timur bersama dua teman saya dan kami menjadi detektif-detektifan.  Ya, cerita menjadi detektif di mimpi saya itu sebenarnya tidak terlalu penting, tapi cerita setelah itu cukup membuat saya sendiri haru..

Sebelum cerita itu saya lanjutkan, saya ingin bercerita tentang pakde saya yang sangat kami sekeluarga sayangi.  Kalimat tadi harus saya lengkapi juga, almarhum pakde saya, tepatnya.  Beliau meninggalkan kami sejak hampir setahun yang lalu.  Beliau seringkali mengingatkan keluarga besar kami kepada kebaikan, dan mengingatkan untuk menjauhi hal-hal yang kurang membawa manfaat.  Almarhum pakde dan keluarganya selalu menjadi keluarga yang hangat, memberikan solusi di saat keluarga kami bingung, tempat curhat bagi kami semua yang sangat kami rindukan.  Memberikan solusi di saat saya sendiri pernah mendapat pukulan dan teguran yang tidak mudah dalam kehidupan saya.  Kawan bersilaturahim dan bercanda bagi kedua orang tua saya.  Ya, beliau adalah manusia seperti itu.

Dan siapa tahu,, siapa tahu di pagi ini  saya bermimpi menjadi detektif di suatu desa yang seperti tempat tinggal Bapak saya, dan ternyata, saat saya sedang mengivestigasi penjahat dari rumah ke rumah warga, Alloh memberikan saya mimpi bertemu seseorang yang dirindukan..  Di salah satu rumah kecil dengan sepasang kakek dan nenek yang tidak saya kenal di dalamnya, saya akrab menginvestigasi mereka sambil bermain dengan cucu-cucu mereka.  Suasana lebaran yang sangat haru dan menyenangkan sebagai seorang detektif😀.

Lalu cucu-cucu dari nenek dan kakek itu memaksa saya masuk ke dalam ruangan keluarga mereka untuk bermain,  saya ditarik dan saya mengikuti mereka, lalu ternyata,  saya menemukan sosok yang saya kenal dalam hidup saya.

Beliau memakai baju putih tersenyum lebar setengah tertawa.  Seperti dahulu biasanya, setiap bertemu beliau, saya pun menyodorkan tangan untuk salim (bersalaman) dan mencium tangannya seperti diajari orang tua saya.  Tetapi kali ini, dengan senyum itu kami berangkulan, saya pun sampai dapat mengingat minyak wangi yang biasa beliau pakai dalam mimpi itu, dan juga beliau membisikkan satu kata berulang-ulang, simpel tapi berulang-ulang

“Bersyukur, bersyukur, bersyukur.. bersyukur …. bersyukur …… bersyukur …………. bersyukur.”

Begitulah kata-kata itu dibisikkan pada saya.  Seolah mengingatkan kembali perjalanan hidup saya, atas saran beliaulah saya mencari kuliah di luar negeri.  Atas saran beliau jugalah saya tetap bersabar sementara waktu untuk tetap di Kalimantan Barat dan mengambil segala hikmahnya.  Dalam mimpi itu, setelah mendengar bisikan itupun, sesuatu hangat terasa meleleh keluar dari mata saya, dan setelah itu saya pun terbangun dan mendengar jam dinding saya berdetik sesuai dengan setiap kata bersyukur yang diulang almarhum pakde saya di mimpi itu.  Saya menyeka mata saya, dan ternyata air mata yang keluar di mimpi itu pun juga keluar di kehidupan nyata.

Manusia baik hati akan selalu memberikan inspirasi walaupun sudah tiada.  Juga yang jelas dalam kisah pagi ini, dan mimpi pagi ini semoga penuh hikmah.  Alloh mengingatkan saya untuk selalu bersyukur lewat mimpi itu, lewat mimpi yang sekaligus memberikan secercah nostalgia.  Dan juga kata bersyukur yang diucap berulang-ulang dan berganti detik jam dinding, apakah itu artinya saya harus selalu bersyukur setiap detiknya berjalan ?

wallohualambishshawab

Pakde in white

Pakde in white

2013 in review. Review 2013 yang bagus oleh WordPress :D. Thankyou, keep visit my blog ya blog walkers :)

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 8,300 times in 2013. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 3 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.